KEEMPAT, SERUAN PENDERITAAN ROHANI

Jl. Sidahapintu No 1B
Parapat - Danau Toba

(0625) 455 9050
info@stttrinity.com

"Eli, Eli, lama sabakhtani?" Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? (Mat.27:46).

1. Sejujur-jujurnya, dari seluruh kalimat Yesus di kayu Salib, kalimat di atas merupakan kalimat yang paling menyedihkan dan mengerikan.  Itulah sebabnya, saya mengerti jika seorang hamba Tuhan yang sangat senior pernah berkhotbah,  “Belum pernah saya mampu mengkhotbahkan ucapan keempat itu tanpa terharu dan mencucurkan air mata”.
 
2. Bagaimanakah kita memahami seruan keempat tsb? Dengan jelas Dia memanggil Allah dengan “AllahKu, AllahKu”. Lalu dengan jelas pula dikatakan bahwa Allah meninggalkanNya. Akibatnya, tidak sedikit orang yang salah mengerti akan ucapan tsb.

3. Mengapa Dia menyapa dengan cara itu?  Mengapa menyapa Allah bukan dengan “Bapa” sebagaimana ucapan pertama dan terakhir? Dari tujuh ucapan Yesus di atas kayu Salib, ada tiga yang berbentuk doa, yaitu: yang pertama, keempat dan ketujuh. Ucapan pertama dan ketujuh Tuhan Yesus menyapa dengan “Bapa”.  Mengapa kali keempat ini Yesus memanggil dengan “AllahKu”? Kita tidak boleh salahmengerti kalimat tsb, seperti aliran Saksi Jehova  yang mengatakan bahwa itu adalah bukti bahwa Yesus bukan Allah.

4. Jikalau kita membaca Injil, khususnya Injil Yohanes, dengan sangat jelas diajarkan bahwa Yesus adalah Allah sendiri (Yoh.1:1). Jadi, apa yang menyebabkanNya memanggil dengan menyerukan: “AllahKU?” Sesungguhnya, dalam ucapan keempat itulah tercermin dengan sangat jelas peran Yesus yang menggantikan manusia berdosa.

5. Sekitar tujuh ratus tahun sebelumnya, nabi Yesaya sudah menubuatkan:

“Dia tertikam karena pemberontakan kita, Dia diremukkan karena kejahatan kita, ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadaNya...” (Yes.53:5).

6. Itulah sebabnya,  kita membaca bahwa Allah meninggalkan Dia.  Dengan perkataan lain, seluruh murka Allah akibat dosa-dosa manusia telah ditimpakan kepadaNya, sebagaimana dinubuatkan oleh nabi besar Yesaya tsb di atas. Hukuman yang seharusnya dialami oleh umat manusia berdosa –oleh kita semua- telah diderita oleh Yesus. Nabi Yesaya menyerukan bahwa dosa memisahkan kita dari Allah (Yes.59:1-2). Dan itulah yang terjadi di kayu salib. Akibat dosa-dosa manusia, akibat dosa-dosa kita semua, Allah yang mahasuci terpisah dari Yesus. Dengan demikian, kita dapat memahami  pernyataan rasul Paulus berikut: “ Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah. (2 Kor. 5:21)  

7. Jadi, dari seruan di atas, kita melihat dengan jelas penderitaan rohani  Yesus yang sangat dalam, terpisah dan ditinggalkan oleh Allah Bapa.  Hal itu, belum pernah terjadi di dalam hidup Yesus. Peristiwa itu, memang merupakan rahasia (musterion) yang tidak akan pernah dapat kita pahami sepenuhnya. Namun, meski kita tidak mampu memahaminya, kita mampu mengimaninya dengan segenap hati kita. Dengan mengimani rahasia penderitaan Yesus yang tidak terpahami itu,  kita disadarkan bahwa seruan itu mengakibatkan berkat yang terindah bagi kita.  

8. Mari kita meyakini, tanpa sedikitpun ragu kenyataan penting ini: karena Yesus telah menanggung murka Allah, kita tidak perlu lagi menanggung murkaNya akibat dosa-dosa; karena Yesus ditinggalkan, maka  kita tidak perlu lagi ditinggalkan. PenderitaanNya adalah  demi kebahagiaan kita, salibNya adalah demi mahkota kita. No crown, without cross, demikian  seorang pengkhotbah. Rasul Paulus menulis kepada jemaat di Tesalonika: “Yesuslah yang melepaskan kita dari  murka Allah yang akan datang” (1 Tes.1:10). “Dia yang tidak mengenal dosa, dijadikan dosa karena kita” (2Kor.5:21)