UCAPAN KETIGA: SERUAN KASIH KEPADA ‘IBU’ (KELUARGA)

Jl. Sidahapintu No 1B
Parapat - Danau Toba

(0625) 455 9050
info@stttrinity.com

"Ibu, inilah, anakmu!" "Inilah ibumu!" (Yoh.19:26,27).

1. Tuhan Yesus telah hidup besama Maria, ‘ibu’nya selama kira-kira tiga puluh tiga tahun. Alkitab menjelaskan bahwa Yesus dilahirkan melalui rahim Maria. Sekali pun kelahiran Yesus adalah dari Roh Kudus  (Lukas :1:35) - jadi bukan karena hubungan normal suami istri- namun Maria adalah ibu  jasmani Tuhan Yesus. Dokter Lukas menuliskan dengan sangat jelas masa kecil dan remaja Yesus yang secara penuh berada dalam pemeliharaan Maria (Lukas 2:41-52).
 
2. Lalu apa yang dilakukan oleh Tuhan Yesus di tengah-tengah kondisiNya yang sedemikian genting, kritis, tidak berdaya secara jasmani? Baiklah, jika salib merupakan satu kondiri yang tidak ‘terelakkan’ bagi Yesus, dan jika itu adalah  merupakan panggilanNya yang kudus dan mulia dari Allah, maka bagaimana dengan ‘nasib’ ibunya? Sebagai anak sulung Maria, tentulah Yesus memiliki tanggung jawab kepada ‘ibu’ jasmaniNya.

3. Barangkali,  orang bisa maklum jika Yesus tidak berbuat apa-apa kepada  Maria. “Bukankah Yesus sedang sekarat dan tidak berdaya? Bukankah Yesus sedemikian menderita, kurang tidur, sedemikian lelah, disiksa sedemikian berat sejak Dia ditangkap malam hari sebelumnya? Masih Apakah masih sempat bagi Yesus memikirkan orang lain, termasuk ‘ibu’Nya?”  
 
4. Namun, kita melihat, ternyata Dia memang benar-benar sempat, atau menyempatkan diriNya, atau memaksa diriNya untuk sempat memikirkan ‘nasib’ kehidupan  ibuNya. Karena itulah, di tengah-tengah kondisi yang sedemikian sulit dan menderita, Dia mengatakan kalimat tsb di atas. Menoleh kepada Maria,  Dia mengatakan: “Maria, atau lebih tepatnya, Perempuan (Yunani: Gunai), inilah anakmu”. Lalu menoleh murid yang dikasihiNya, yaitu Yohanes, Dia mengatakan, “Lihat ibumu (Yunani: Ide he mēter sou). Selanjutnya kita membaca: “Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya” (Yoh.19:27).  Jadi, Tuhan Yesus yang  mengasihi semua orang, termasuk penjahat besar, kini nyata lagi bagaimana Dia mengasihi keluargaNya sendiri.

5. Salah satu kelemahan para anak-anak Tuhan, pelayan-pelayan atau yang disebut aktivis adalah sedemikian sibuk dalam pelayanan, sehingga mengabaikan keluarganya sendiri. Ini juga menjadi kelemahan para pendeta, termasuk saya pribadi. Jika itu terjadi karena ketidakmampuan karena keterbatasan waktu, bisa dimaklumi,  walau tentu diharapkan untuk terus menerus berjuang  mengatur waktu demi meningkatkan keharmonisan kehidupan keluarga. Namun menjadi masalah, jika hal itu terjadi karena kesalahan pemahaman akan tanggung jawab keluarga di tengah- tengah panggilan pelayanan.

6. Kiranya seruan Tuhan Yesus tsb di atas mengingatkan kita semua untuk mengasihi ibu, ayah, keluarga kita.  Contoh di atas menunjukkan dengan jelas bahwa tidak ada ALASAN UNTUK TIDAK SEMPAT DAN MENGABAIKAN KELUARGA.  Itu sebabnya, Alkitab memperingatkan dengan sangat tegas bahwa “Jika ada seorang  yang tidak memeliharakan sanak saudaranya, apalagi  seisi rumahnya, orang itu murtad dan  lebih buruk dari orang yang tidak beriman”. (1Timotius 5:8).