KEMENANGAN YANG JAUH LEBIH BESAR (2)

Jl. Sidahapintu No 1B
Parapat - Danau Toba

(0625) 455 9050
info@stttrinity.com

#HidupKekalDiSurga
#TidakBinasa
#PemberianTerbesar

Mengapa kita perlu membahas tujuh ucapan Yesus di kayu Salib? Jawabannya sederhana, karena sesungguhnya, kasih kita kepada Tuhan Yesus sangat dipengaruhi oleh pengenalan dan pemahaman kita akan Salib dan penderitaan Yesus. Selanjutnya, komitmen dan kesetiaan kita sangat dipengaruhi oleh kasih kita kepadaNya. Gaya hidup kita di dunia ini juga dipengaruhi oleh penghayatan akan salib tsb. Kiranya kita semua dapat berseru seperti rasul Paulus,

“Aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain di dalam salib Tuhan kita...” (Galatia 6:14).

Untuk itu, marilah kita mulai dengan ucapan pertama Tuhan Yesus di bawah ini.

PERTAMA, SERUAN PENGAMPUNAN KEPADA SEMUA ORANG.

“Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”. (Luk. 23:34)

1. Jika kita telah menonton film tentang penyaliban, misalnya, film The Passion of the Christ, karya Mel Gibson, di sana dapat terlihat dengan sangat jelas bagaimana penderitaan Yesus yang sesungguhnya. Sejak Yesus ditangkap di taman Getsemane, lalu di ‘pimpong’ dibawa untuk ditidakadili kepada Imam Hanas, Kayafas, Pilatus, Herodes, Pilatus, Yesus terus mengalami fitnahan, perlakuan kasar, penyiksaan. Melalui film film The Passion of The Christ tsb, kita menyaksikan bagaimana kejam dan sadisnya serdadu-serdadu Romawi menyiksa Tuhan Yesus.  Itulah sebabnya, seluruh tubuhNya penuh dengan luka dan lumuran darah, kedua kelopak mataNya hampir tertutup karena luka-luka.

2. Setelah itu, dari pengadilan Pilatus, Tuhan Yesus dengan susah payah memikul salib yang sedemikian berat menuju bukit Golgota. Di dalam film tsb digambarkan bahwa Yesus berkali-kali jatuh bangun. Karena itu, ada penelitian menemukan bahwa hidung Yesus pecah. Itu mungkin terjadi,  yaitu ketika terjatuh dan hidungNya membentur batu dan pada saat yang sama seluruh badan ditimpa salib yang sangat besar dan berat.

3. Dan setelah tiba di bukit Golgota, Tuhan Yesus masih harus menderita akibat paku-paku yang besar dan tajam dipakukan kepada kedua tangan dan kakiNya.  Lalu, tubuh yang berlumuran darah itu akan ditegakkan bersamaan dengan salib, sehingga seluruh tubuh tergantung di atas salib yang hanya ditahan oleh paku2  besar.

4. Meski penderitaan Yesus sedemikian berat, bagaimanakah Tuhan Yesus meresponi semua perlakuan kasar dan sadis tsb?
Yesus berdoa.Itulah doa yang diucapkan di atas.

5. Apa maknanya bagi kita?

Pertama, PENGAMPUNAN YANG PASTI.
Saya sangat yakin, semua orang yang telah menyadari penderitaan Yesus tsb di atas, jika sungguh-sungguh mau dengan hati terbuka merenungkan dan memahami isi kalimat tsb, pastilah sangat heran mendengar respons tsb. Fitnahan, makian dan siksaan yang sedemikian kejam dan sadis dijawab dengan doa syafaat.
Tuhan Yesus tidak membalas, itu juga yang telah  dinubuatkan nabi Yesaya sekitar 700 tahun sebelum peristiwa itu (Yesaya 53:6).

Kedua, TELADAN SEMPURNA
Dengan mengucapkan doa di atas, itu menunjukkan bahwa Dia melakukan sendiri apa yang pernah dikhotbahkanNya pada awal pelayananNya. Pada khotbah di atas Bukit Tuhan Yesus bersabda: “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu”. (Mat. 5:44). Mengamati proses penyaliban Yesus, di mana segala perlakuan jahat, fitnah dan kata2 kotor diarahkan kepadaNya, dapat kita pelajari bahwa kebencian itu tidak ada batasnya. Jadi, jangan kita heran jika orang berbuat berbagai perbuatan jahat dan  semakin jahat. Namun syukur, di sisi lain, dengan adanya Doa Tuhan Yesus, kita belajar hal penting, bahwa pengampunan juga tidak ada batasnya. Jadi bagi setiap umat yang mau mengampuni, selalu ada dasar untuk berbuat demikian, yaitu teladan Tuhan di kayu salib.
1Pet.2:21-23.

Ketiga, Dia adalah Allah.
Siapakah sesungguhnya Yesus yang disalib itu? Demikian salah satu pertanyaan yang sering diajukan sepanjang sejarah Gereja.  Jika mendengar dan  belajar secara terbuka akan seruan tsb, itu  menunjukkan kwalitas diri Yesus yang sesungguhnya.  Dia  adalah Allah, sumber kasih dan pengampunan, yang sanggup mendoakan dan mengampuni orang-orang yang berbuat sedemikian jahat dan sadis  kepadaNya. Jadi, Dia yang tersalib itu, bukanlah Yudas, sebagaimana dituduhkan kelompok tertentu. Dia, yang disalibkan itu adalah sungguh2 Tuhan Yesus, yang tidak hanya mengkhotbahkan pengampunan, tetapi juga melakukannya.

6. Betapa mudah bagi kita mengatakan kalimat-kalimat rohani yang indah, tetapi ketika tiba gilirannya untuk melakukannya, banyak di antara kita yang gagal. Kiranya di tengah-tengah adanya sekelompok orang yang iri, memusuhi, membenci kita, kalimat di atas menginspirasi, menolong dan mendorong kita untuk mampu melakukan hal yang sama, mengampuni dan mendoakan mereka yang berbuat jahat kepada kita.
(bersambung).